Terlihat sangat lemah...
Terlihat sangat lemah, itulah yang terintas dipikiranku saat menatapnya. Disaat banyak orang tidak bisa menahan air matanya, saat banyak orang tidak bisa melebarkan senyumnya, saat banyak orang lebih memiih untuk berdiam diri mengenang berbagai kenangan yang sudah dilaluinya. Dia membuatku iri karena ketegarannya.
Datang rasa yang membuatku ingin menjatuhkan air mata, tapi malu rasanya saat melihatnya, dia yang seorang wanita tp lebih tegar sari seorang pria.
Kehilangan orang tua sangatlah berat untuk sebagian banyak orang, tidak terkecuali saya yang baru berusaha terlihat tegar di mata adik-adikku tercinta.
Dia bisa tidak meneteskan air mata dari kedatangannya sampai saat sang ayah masuk ke liang lahat. Dia masih bisa merekahkan senyumnya, dia masih bisa berbicara dengan logikanya. Dia masih bisa mengatur segala keperluannya dan keluarganya. Dia masih bisa berfikir cara untuk meringankan siksa kubur ayahnya.
Saya hanya bisa terkagum olehnya, karena hanya dengan membayangkannya saya merasa ini beban yang sangat berat untuk seseorang yang baru berusaha dekat dengan penciptanya. Hilangnya seorang ayah seakan kehilangan arah untuk dan tujuan untuk mencapai surganya. Kehilangan tempat untuk bertanya, kehilangan teman untuk berfikir, kehilangan panutan, juga kehilangan orang yang rela bersusah payah tanpa pamrih.
Kog bisa dia setegar itu? pertanyaan yang masih saja ada di dalam otakku.
Satu lagi panutan kutemukan dalam hidupku dan aku harus belajar darinya untukmu, kamu yang selalu ada di dalam hatiku.
Datang rasa yang membuatku ingin menjatuhkan air mata, tapi malu rasanya saat melihatnya, dia yang seorang wanita tp lebih tegar sari seorang pria.
Kehilangan orang tua sangatlah berat untuk sebagian banyak orang, tidak terkecuali saya yang baru berusaha terlihat tegar di mata adik-adikku tercinta.
Dia bisa tidak meneteskan air mata dari kedatangannya sampai saat sang ayah masuk ke liang lahat. Dia masih bisa merekahkan senyumnya, dia masih bisa berbicara dengan logikanya. Dia masih bisa mengatur segala keperluannya dan keluarganya. Dia masih bisa berfikir cara untuk meringankan siksa kubur ayahnya.
Saya hanya bisa terkagum olehnya, karena hanya dengan membayangkannya saya merasa ini beban yang sangat berat untuk seseorang yang baru berusaha dekat dengan penciptanya. Hilangnya seorang ayah seakan kehilangan arah untuk dan tujuan untuk mencapai surganya. Kehilangan tempat untuk bertanya, kehilangan teman untuk berfikir, kehilangan panutan, juga kehilangan orang yang rela bersusah payah tanpa pamrih.
Kog bisa dia setegar itu? pertanyaan yang masih saja ada di dalam otakku.
Satu lagi panutan kutemukan dalam hidupku dan aku harus belajar darinya untukmu, kamu yang selalu ada di dalam hatiku.

Komentar
Posting Komentar